Rabu, 14 Agustus 2019

Sering Mengantuk pada Penderita Penyakit Hepatitis B

Sering Mengantuk pada Penderita Penyakit Hepatitis B - Daun bambu melambai pelan mengikuti semilir angin yang bernyanyi lirih. Tak peduli jiwa yang perih. Di usia yang masih kuat, bapak merasakan tiupan alam yang berat. Berjibaku melawan penyakit hepatitis b yang diderita.


Suasana masih pupus. Riang burung masih terdengar. Tetes embun malam belum jua pudar. Bapak duduk bersandar dengan sudut mata yang mulai sempit.

---oOo---

Masih jam sembilan. Bapak mulai ngantuk. "Bapakmu.... sudah diberitahu. Kantuk itu bawaan penyakitnya bapak. Harus dilawan....", ucap ibu mengadu.

Aku hanya terdiam. Tak mungkin menjawab. Aku duduk disamping bapak. Memegang tangannya. Tak ada guna memarahi atau menasehati. Lebih baik aku temani bapak. Agak tidak tidur pagi.

"Kaki bapak udah agak kecilan. Enggak bengkak lagi...", aku mencoba mengalihkan rasa kantuknya. 

Bisa. Dengan diajak berbincang ringan, bapak bisa membuka mata. Melawan kantuk yang teramat sangat.

Aneh memang. Semenjak didiagnosa penyakit hepatitis b, siklus tidur bapak memang tidak normal. Tidak biasa seperti orang sehat. 

Siang hari, beliau lebih banyak mengantuk. Lebih banyak tidur, seperti satpam. Sedangkan malam menjadi waktu panjang yang harus ditakhlukkan.

---oOo---

Perjuangan terus meningkat. Semakin hari terasa semakin nyata. Kantuk, mengantuk, menjadi tambahan pekerjaan yang tak bisa diabaikan. Aku, kami keluarga tidak merasakan langsung. Tapi rasanya seperti sangat berat. 

Tak peduli bagaimanapun cara yang dilakukan, kantuk tetap tak mau hilang. Dari yang lembut. Sampai yang dengan nada tinggi. Tak membuat bapak bisa mengendalikan kantuknya. 

Semakin hari perubahan itu semakin jelas. Semakin nyata. Bahkan, sebagian besar waktu bapak habiskan untuk tidur. 

"Pak... coba dilawan rasa kantuknya... berusaha....", bujuk ibu kepada bapak.
"Namanya ngantuk ya ngantuk. Wong mau tidur aja enggak boleh...", jawab bapak dengan nada kesal, marah.

Saat itu, setelah lama sekali aku tidak pernah melihat bapak emosi, aku tahu benar bapak sedang marah benar. 

Sampai segitunya. Seperti sudah tidak tidur beberapa hari. Emosi bapak juga sampai tak stabil.

Melihat kondisi bapak yang seperti itu aku pun penasaran. Apa yang salah. Aku tak mau buta dalam informasi. Apalagi mengenai kondisi kesehatan bapak seperti itu.

Aku membuka laman web browser. Jariku mulai meliuk. Menari mencari informasi. Akibat penurunan fungsi hati. Mengantuk menjadi hal lumrah untuk penderita hepatitis b. 

Pantas waktu kecil aku sering mendengar para orang tua melarang anak-anaknya tidur pagi. "Nanti beri-beri", ingatku.

Orang dulu memang menyebut penyakit hepatitis b dengan sebutan beri-beri. Kalau tidak salah. Sejak saat itulah aku tak lagi menyalahkan. Aku maklum dengan kondisi bapak yang demikian.

---oOo---

Mentari pagi menyinari bumi dengan hangat. Itu adalah hari kesekian perjuangan bapak dan kami melawan penyakit hepatitis b. 

Seminggu sebelumnya, kurang lebih, bapak dirawat di rumah sakit. Lima hari pulang. Meski kondisi tak membaik. 

Selang beberapa hari. Kondisi bapak memburuk. Bapak semakin lemah. Semakin banyak tidur. 

Kami membawanya lagi ke rumah sakit. Mengusahakan perubahan. Dua hari pertama, bapak seperti koma, tidur tapi sangat lama. 

Hari berselang. Bapak membuka mata. Mulai sadar tapi banyak tidur. Tetap pulas. Siang. Sore. Dan bahkan malam pun dihabiskan dengan mata terpejam. 

Pagi, tak bisa ditinggalkan sama sekali. Kami bergantian. Mengajak ngobrol bapak agar tidak tidur. Tapi. Semakin dilawan semakin kuat. Bapam sudah tidak bisa mengendalikan kantuk itu. 

---oOo---

Selasa, 13 Agustus 2019

Secercah Harapan Hidup Penderita Hepatitis B

Secercah Harapan Hidup Penderita Hepatitis B - Sore terasa begitu dingin. Angin berhembus semilir. Pintu depan terbuka setengah. Terlihat seorang setengah baya duduk memeluk tangan. Asyik mengunyah percakapan ringan.
Secercah Harapan Hidup Penderita Hepatitis B
Hasil Lab HbsAg Reaktif pada Penderita Hepatitis B
Di bagian pojok ruang terdengar suara. Menyahut pembicaraan. Mereka tengah asyik menghabiskan waktu. Menjelang magrib. Di kejauhan, terdengar suara motor. Pria 30 tahunan menatap ke depan. Memakai helm. 

1) Hepatitis b adalah
2) Jus untuk hepatitis b
3) Ciri penderita hepatitis b
4) Obat hepatitis b paling ampuh
5) Penderita hepatitis b yang sembuh
6) Makanan menyembuhkan hepatitis b
7) Hepatitis b bisa sembuh hbsag negatif 1
8) Anjuran makanan untuk penderita hepatitis

Motornya melambat. Di depan pintu samping. Pintu bambu. Ia kemudian masuk. Memarkir motornya cepat. Terburu-buru. Masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Ke kamar.

"Bagaimana keadaan bapak?"
"Ya gitu..."
"Kencingnya?"
"Berkurang... tapi mau makan. Dikit..."
"Hem...."

Pria itu menatap dalam. Pada pria tua yang terbaring lemah. Sorot matanya tampak sayu. Sejurus kemudian ia menghela nafas panjang.

Ia kemudian duduk di sebelah ranjang. Kaki kananya tampak kuat menyangga tubuhnya. Yang sepertiganya ditumpu ranjang.

Tangan kanannya merapa pelan. Mengelus tangan kriput pria yang berbaring itu. Ia menatap lekat ke wajah itu. Tampak mata pria kurus itiu sedikit terbuka. Sayu.

Ia kemudian beranjak. Pergi ke belakang.
"Masih ada harapan. Tidak tambah parah...."
"Ya... semoga begitu". Pria itu tampak begitu berat untuk membuka bibirnya.

Itu sudah ke tiga kalinya. Bapak, yang sakit hepatitis b itu badannya drop. Drop pertama setelah rawat inap. Langsung opname satu minggu. Kedua, sehari setelah terapi. Dan ini yang ketiga. 

Pria yang baru saja itu, anak sulung. Laki-laki satu - satunya. Pengganti orang tua. Tak berdaya. Sejak sakitnya sang ayah ia seperti sudah putus asa. Ketika tahu sakit yang diderita. Saat dijelaskan dokter. 

Sakit bapak tidak ada obatnya. Bisanya di luar negeri. Cangkok hati. Itupun resikonya sama. Bisa terinfeksi sekali lagi.

Bapak harus minum obat seumur hidup. Obat itu pun tidak bisa menghilangkan infeksi virus hepatitis b dalam tubuh. Hanya meringankan gejala. Demikian kurang lebih penjelasan sang dokter. 

Pria itu tabah. Kuat. Tapi dalam hatinya menangis perih, mengeluh. Meratap. Sampai suatu ketika, salah seorang tetangga berucap "coba pakai altenatif mas. Herbal." 

Ada secercah harapan. "Kalau pakai herbal secara rutin masih mungkin pulih. Ya tergantung yang di atas sih. Manusia hanya bisa ikhtiar. Wajib ikhtiar."

Dengan berat ia rebahkan badannya di sofa. Menerawang. Menggantungkan harapan setinggi langit. Pada Alloh. Yang Maha Penyembuh. Untuk mengangkat penyakit yang diderita.

Bukan tanpa alasan. Drop kedua, ayahnya berangsur membaik. Apalagi kala itu mulai rutin minum jamu, herbal. Kondidinya ayah semakin baik. Bisa makan minum. Bisa jalan. Meski tertatih. 

Waktu bergulir. Fisik ayahnya makin menggembirakan. Kecuali satu. Perut yang masih begah. Penuh cairan.

Minggu lalu pria itu juga datang. Menjenguk sang ayah. "Apa yang dirasa pak...", tanya dia.

Begah. Pinggangnya sakit. Ucap sang ayah. Pria itu diam sejenak. Ia kemudian meraba perut sang ayah. Yang besar. Yang seperti orang hamil 9 bulan itu. "Keras benar", pikirnya. 

Ia kemudian keluar kamar. Menemui ibu yang ada di dapur. "Bapak tidak bisa terus seperti itu. Cairannya harus dikurangi", ia membuka percakapan. 

"Ya bagaimana?", jawab ibunya.

"Kasih obat kencing. Satu dua hari. Diamati, jangan sampai drop."

Satu minggu berlalu. Bengkak di kaki ayahnya mulai berkurang. Meski sedikit. Sela dua hari. Ayahnya tak lagi diberi obat kencing. Takut drop. Lemas.

Suatu siang. Ayahnya bangun. Minta makan karena dari pagi tidak mau makan. Si bungsu. Beliau meminta obat dari si bungsu. 

Dikasih. Selang satu hari mulai lemas. Efek obat. Tensi darah mulai tak stabil. Seperti saat drop sebelumnya. Mungkin. 

Hari berikutnya belum membaik. Lebih parah. Anak sulungnya pun datang lagi. Sehari. Kondisi ayahnya mulai tidak terlalu mengkhawatirkan. Berangsur sadar. 

"Alhamdulillah..." ia bersyukur dalam hati. Masih ada harapan. Semoga, medis dan herbal bisa menyembuhkan sakit bapak. Dalam hati kecilnya yang paling dalam ia terus berharap.

---oOo---

Tindakan Endoskopi Penderita Penyakit Hepatitis B

Prosedur tindakan Endoskopi untuk penderita Hepatitis B. Tepatnya bapak harus menjalani tindakan gastroskopi. Lelah. Sungguh menguras kesabaran. Setelah diharuskan menjalani rawat jalan semua semakin sulit. Rasanya, lebih sulit dibanding ketika rawat inap. 
Prosedur Tindakan Endoskopi Penderita Penyakit Hepatitis B
Ilustrasi Pendaftaran Endoskopi Penderita Penyakit Hepatitis B

Hari pertama kontrol. Tak lebih dari 15 menit. Dokter kemudian menuliskan resep. "Bapak ini kita jadwal endoskopi ya," ucap dokter sambil menulis resep.

"Apa lagi itu dok...?", tanya anak beliau yang mendampingi. "Endoskopi. Untuk melihat kondisi saluran cerna, lambungnya..."

Dokter kemudian menyerahkan berkas bapak. Memintanya untuk ke ruang perawat.  Beliau keluar ruangan dokter. Dipapah oleh anaknya. 

"Bapak duduk saja di sana...", ucap anaknya sembari berjalan menuju ruang perawat.
"Bu..."
"Iya... tunggu sebentar ya..."

Seorang perawat lalu membuka berkas bapak. Ia tampak sibuk dengan berkas tersebut.

"Endoskopi ya..."
"Iya bu..."
"Ini silahkan di bawa ke ruang endoskopi. Yang ini untuk resep..."
"Sebelah mana ya bu ruangannya?"
"Depot farmasi tahu, yang di alamanda?"

"Iya bu..."
"Ya... gak jauh dari situ"
"Makasih bu...."
"Hem...."

Putra beliau langsung ke luar. Memanggil adik dan ayahnya. Mereka turun ke bawah. Menuju lantai dasar.

"Antar berkas ini ke ruang endoskopi. Dekat depo farmasi. Ajak bapak. Mas mau nebus obatnya dulu."

Mereka bertiga berpisah. Bapak dan putrinya menuju ke bagian endoskopi. Putranya ke apotek. Menebus obat.

---oOo---

Sekitar jam 10. Beliau sampai di bagian endoskopi. Ruang itu tampak kecil, sederhana. Di depannya ada sebuah gardu listrik. Di samping gardu ada bangunan kecil. Entah bangunan apa. 

Dibagian kiri tampak ruang kemoterapi. Yang tampak lebih mewah dari ruang endoskopi. Di sana terlihat sibuk. Lebih sibuk dari bagian yang sedang dituju bapak.

Di depan ruang endoskopi ada beberapa orang yang sedang duduk. Ada yang santai. Ada juga yang terlihat murung, bahkan bingung. 

"Maaf bu... ruang endoskopi ya?"
"Iya benar.... baru kesini ya mbak?"

"Iya nih...."
"Di bawa masuk dulu mbak berkasnya. Di ruang informasi..."
"Oh... iya bu"

Dengan cekat kedua anak beliau mengurus berkas. Beberapa saat setelaj itu mereka dipanggil. 
"Keluarganya..."
"Iya bu..."
"Ini bapak harus bertemu dokter dulu. Bagaimana nanti terserah kata dokter..."

"Oh iya bu... terus dokternya kapan bu?"
"Belum datang. Ditungu aja ya. Nanti dipanggi..."
"Baik bu..."

Putri beliau keluar dari ruang informasi. Ia kemudian mengatakan pada sang bapak agar menunggu dokter. Selanjutnya mereka pun duduk. Seperti yang lain, menunggu antrian bertemu dokter. 

---oOo---

Muka - muka semakin gelisah. Dokter yang ditunggu belum juga datang. Beberapa ada yang masih bertahan. Mengobrol, bahkan sesekali bergurau. Enggak ada otak mungkin, atau sengaja mengalihkan gundah. 

Bapak lebih banyak diam. Putranya, bolak-balik. Mondar - mandir kesana ke mari. Seperti orang tak waras. 

Hanya putri beliau yang masih terlihat lebih tenang. Sembari menunggu dokter dia sibuk mengintrogasi orang disana. Entah apa menariknya. Ia tampak begitu serius menyimak cerita yang dibeberkan.

"Nah... itu dokternya datang...", ucap seorang ibu. Semua mata tertuju pada sosok lelaki paruh baya yang baru saja masuk ruang informasi.

Tak seperti lainnya, ia hanya memakai baju biasa saat masuk ke ruang itu. Beberapa menit kemudian ia keluar sembari menenteng jas berwarna putih.

"Pak Rojak...", seorang perawat memanggil salah satu pasien.
"Silahkan ke dalam...", perintahnya sambil menyodorkan berkas dalam map. Ia kemudian memanggil nama kedua.

Mendengar namanya dipanggil, beliau segera beranjak. Ia berjalan mengikuti suster tadi didampingi putranya. Mereka pun masuk ke ruang periksa dokter.

"Diperiksa dulu ya pak..."
"Iya dok...."

"Bapak ini sakit apa?"
"Belum tahu dok. Katanya suruh ke sini di endoskopi..."
"Hem... endoskopi ya. Coba kita lihat dulu ya..."

Sang dokter kemudian memeriksa bapak lagi. 
"Akhir-akhir ini bapak batuk?"
"Enggak dok?"
"Punya riwayat sakit jantung?"

"Tidak dok...."
"Bapak merokok ya?"
"Dulu... sudah lama sekali dok... terus berhenti sampai sekarang"

"Iya... ini bapak nafasnya sesak. Otot pernafasannya tegang. Belum bisa endoskopi ya pak. Diperiksa dulu nafasnya ke lab...."
"Belum bisa ya dok?"

"Iya.... harus cek nafas bapak dulu. Nanti dibuat jadwal ke lab. Kita lihat hasilnya dulu seperti apa. Apa kata dokter disana nanti...."

"Baik dok..."
"Ya sudah... ke suster aja ya lainnya... silahkan..."

Ada kelegaan. Tapi ada rasa kecewa tergambar di wajah beliau dan anak-anaknya.
Masih agak pagi. Setelah berkas selesai, beliau dan kedua anaknya langsung menuju lab paru. 

Masih buka. Dokter lab pun masih ada. Berkas langsung disodorkan. Lima menit kemudian namanya dipanggil. 

Begitu masuk, beliau diukur tinggi dan berat badannya. Bukan diukur sih sebenarnya tapi mengukur sendiri dengan alat yang sudah tersedia. Setelah itu ia kembali disuruh menunggu sementara petugas menyiapkan tes lab. 

Tak lama, bapak kembali dipanggil.  "Masuk sini pak. Kita tes. Dibantu bapaknya ya mas..."

Petugas lab kemudian memberikan benda yang sudah dilapisi kertas tisu dibagian depannya. Semacam terompet yang tersambung ke komputer dan harus ditiup sekuatnya.

"Sini pak... ini dimasukkan ke mulut dan ditiup yang kuat...", ucap petugas itu memberikan perintah.

Akhirnya, setelah beberapa kali mencoba dan gagal. Bahkan sampai dibentak-bentak, akhirnya berhasil. Data kondisi paru-paru tercetak. 

"Ini pak, sekarang ketemu dokter. Hasilnya dikasih ke dokternya ya pak. Silahkan."

Beliau langsung ke ruang dokter. Dengan ramah sang dokter mempersilahkan beliau duduk dan mencermati hasil lab. 

"Bapak merokok ya?"
"Tidak bu... dulu sekali pernah..."
"Seminggu ini pernah batuk pilek?"
"Iya dok... beberapa hari ini memang agak batuk...."

"Sebelum-sebelumnya gimana?"
"Biasa aja dok. Enggak batuk..."
"Ya sudah. Enggak apa-apa ini

Bisa dilanjutkan ya pak. Mau endoskopi kan?"
"Iya dok..."
"Ya sudah. Ini hasilnya silahkan dibawa lagi ke tempat tadi"
"Baik dok..."

Mereka pun kembali ke ruang endoskopi dan menyerahkan hasil lab tadi.
Sampai disana, ruang endoskopi sudah sepi. Tidak ada yang antri. 

"Bu... ini hasil lab jantung bapak..."
"Oh... iya.. sudah di lab?"
"Sudah bu.... terus ini bagaimana lagi bu?"

"Nunggu besok ya pak. Dokternya kan sudah pulang. Jadi besok ketemu dokter lagi baru tahu bagaimana...."

"Jadi besok harus kesini lagi bu?"

"Iya... tapi ya enggak harus besok-sok. Lusa juga boleh. Atau nanti kalau obatnya sudah habis. Di kasih obat kan sama dokter?"

"Iya bu... ya sudah kalau begitu kami permisi..."
"Iya... silahkan"

Berbekal obat beberapa jenis dan jadwal kontrol, Beliau dan keluarga kemudian pulang dengan perasaan yang campur aduk.

---oOo---

Kamis pagi di minggu yang sama, beliau kontrol lagi. Melanjutkan tahapan persiapan untuk tindakan endoskopi yang dianjurkan dokter.

Kali ini ia didampingi oleh anak perempuannya. Bersama sang istri. Pagi, sekitar setengah delapan mereka sudah didepan pintu endoskopi. Begitu petugas endoskopi datang, anak perempuannya langsung menemuinya.

"Sebentar ya saya cek dulu berkasnya....", ucap petugas itu ramah.
"Gimana bu?", tanya putrinya. "Bapak kemarin sudah lab jantung belum sih...?", tanya petugas itu.

"Kemarin lab paru bu... kayaknya kalau jantung belum...", jawab putri beliau lagi. 

"Ya sudah. Lab jantung dulu saja. Biar cepet...", ucap petugas itu. "Ini berkasnya silahkan bapak di lab jantung dulu. Di lantai dua ya", jelas petugas itu lagi.

Begitulah. Sebelum bisa dilakukan endoskopi, bapak harus menjalani serangkaian lab. Lab jantung, paru dan beberapa lab lain.

Tidak bisa sehari selesai. Bapak harus mondar-mandir seminggu sampai tiga kali ke rumah sakit. Padahal jarak rumahnya cukup jauh.

Prosedur tindakan endoskopi yang harus dijalani penderita hepatitis seperti bapak memang melelahlan. Harus dipastikan semua mendukung. Baru, selang berisi kamera itu bisa dimasukkan ke saluran pencernaan beliau.

Letih, mungkin juga hampir putus asa. Tapi mau bagaimana lagi. Bapak harus mendapatkan perawatan terbaik untuk kesembuhan penyakit hepatitis b yang diderita.

---oOo---

Senin, 12 Agustus 2019

Pemeriksaan Laboratorium Cairan Perut Adenosine Deaminase (ADA) Ascites

Pemeriksaan Laboratorium Cairan Perut Adenosine Deaminase (ADA) Ascites, diagnosa awal penyakit Hepatitis B yang menghancurkan kebahagiaan. Sibuknya kota tak sesibuk keluarga bapak. Sedang berjibaku.
Pemeriksaan Lab Cairan Perut Adenosine Deaminase (ADA) Ascites
Pemeriksaan Lab Cairan Perut Adenosine Deaminase (ADA) Ascites
Berjuang demi kesembuhan. Untuk penyakit yang telah merenggut kebahagiaan. Melangkah ke tahap berikutnya, untuk diagnosa penyakit hepatitis b.

"Siapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Segera ke rumah sakit rujukan." Ucap istri beliau. Memberi perintah pada anak - anaknya.

"Apa saja yang dibutuhkan. Kita kan tidak tahu?", sahut salah satu anaknya. "Yang jelas rujukan kemarin. Dengan berkas-berkas bapak... Pokoknya semua dibawa saja..." Lanjut yang lain.

"Mas... surat rujukan rumah sakit kemarin kan belum dilegalisir. Belum dicap. Jadi enggak bisa langsung berangkat besok."

"Bisa mampir dulu sebentar minta cap terus langsung berangkat?"
"Enggak bisa mas. Pasti kesiangan. Jam delapan pasti baru buka... Sampai sana mau jam berapa?"

"Ya sudah. Besok minta stempel dulu. Baru esoknya kita berangkat.

Bapak tidak bisa berangkat langsung. Kemarin sudah terlalu sore. Dokter hanya memberi rujukan. Belum dicap, dilegalisir oleh BPJS.

Bapak adalah pasien BPJS. Tidak bisa berjalan sendiri tanpa persyaratan itu. Kecuali ia mau berobat mandiri. Dengan biaya sendiri. Yang tidak dimiliki.

Dua hari berselang. Sesuai saran dokter. Bapak berobat ke rumah sakit umum propinsi. Berekal kartu bpjs. Berharap segera ada kejelasan penyakitnya.

Hari pertama ke rumah sakit propinsi. Hampir sama. Bertemu dokter. Ditanya ini itu. Diberi resep dan pulang dengan obat yang banyak.

Dokter tak menyinggung sama sekali mengenai penyakit yang diderita. Menjelang magrib, bapak pulang dengan perasaan sedikit lega. Ada harapan baru di rumah sakit yang lebih besar itu.

---oOo---

Kamis. Bapak berobat lagi. Kunjungan kedua. Konsultasi dengan dokter spesialis. "Bapak harus rawat inap", dokter mengambil keputusan.

Tepat tengah hari. Bapak, dan kedua orang anaknya keluar dari poli penyakit dalam. Menunggu di lobi ruang untuk pindah ke ruang rawat inap.

Duduk di bangku ruang tunggu. Bapak duduk di kursi. Anak perempuannya duduk di samping kirinya.

Di bagian kiri lagi. Anak laki-laki bapak tampak duduk. Berjongkok. Bersandar di tembol yang berada tepat dibelakangnya. Ia jongkok menghadap bapak dan anak perempuannya.

Sorot matanya kosong. Tampak rasa khawatir yang begitu dalam. Ada kepedihan yang tergambar dalam gurat-gurat wajahnya.

Sesekali ia meremas tangannya. Menatap ke arah adiknya yang berada disisi sang ayah.

"Sudah lama... kenapa tidak dipanggil - panggil"
"Mungkin belum..."
"Coba tanya dulu mas... Sudah hampir dua satu jam kita menunggu"

Pria itu bangkit. Ia lalu masuk ke ruang perawat. Bertanya kapan bapak bisa pindah ke ruangan. "Sabar ya pak. Ini lagi disiapkan ruangannya." Salah satu perawat memberikan jawaban.

Menunggu. Mereka pun harus menunggu. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Waktu berselang. Bapak tak juga kunjung dipindahkan ke ruang rawat. Sekali lagi, anaknya masuk ke ruang perawat. Kali ini anak perempuannya. Yang tampak sudah sangat tak sabar.

"Bagaimana pak... Sudah bisa pindah ke ruangan belum?"
"Siapa Bu... Oh, bapak ya... Sebentar ya. Ini sedang dicek ruangannya"

"Oh... begitu. Minta tolong supaya cepat ya pak. Kasihan bapak sudah lama nunggu..."
"Iya bu... Sebentar lagi ya. Saya cek lagi. Silahkan tunggu di depan"

Kurang lebih, dua jam berlalu. Bapak akhirnya di antar ke ruang rawat inap. Di bagian ujung rumah sakit daerah tersebut.

Sesampainya di ruangan tersebut, perawat yang menghantar langsung berpamitan. Meninggalkan bapak dan keluarganya di lorong ruang rawat inap.

Ia berpesan agar menemui perawat disana. Anak bapak segera ke ruang perawat. Menanyakan ruangan untuk bapak.

"Bapak pakai bpjs kelas berapa?", tanya salah satu perawat disana.
"Kelas II pak..." jawab putra bapak

"Maaf pak... ruangannya penuh. Jadi harus menunggu dulu di lorong", jawabnya lagi.
"Ha... menunggu. Menunggu bagaimana?", ucap putra beliau
"Ya menunggu sampai ada ruangan kosong..."

"Waduh pak... enggak bisa begini dong. Masak pasien sakit ditaruh di lorong begitu saja. Masa tidak bisa diusahakan..."

"Ya mau bagaimana lagi. Untuk ruangan bapak memang penuh. Yang ada di kelas 3. Ibu silahkan cek dulu ruangannya..."

Anak lelaki bapak langsung keluar. Melihat ruangan kelas 3 yang dimaksud perawat. Ia mendapati satu ruang yang diisi dengan 4 pasien. Atau lebih.

"Enggak bisa pak... ruangannya seperti itu.... Terlalu ramai" ucap putra beliau, "satu ruang ada empat pasien" lanjutnya sambil menoleh ke arah adiknya.

"Lalu bagaimana ini pak. Apa tidak bisa diusakan. Di ruangan lain?"

"Gimana ya. Kalau disini ya itu tadi. Tapi kalau ibu mau bisa ke ruangan lain. Bukan di ruang ini. Ibu bisa cek sendiri ke sana. Siapa tahu ada ruang kosong..."

"Gimana pak... cek sendiri. Apa tidak bisa dihubungi dari sini saja. Minta tolong lah pak.... Masak kita harus mondar mandir membawa pasien yang sudah seperti itu?"
"Ya sudah. Tunggu sebentar. Saya tanyakan dulu..."

Selang beberapa menit. Perawat disana kemudian memanggil anak perempuan beliau.

"Ada ruangan kosong bu. Silahkan bapak di bawa kesana. Bilang saja disuruh saya. Pak Bambang"
"Oh... baik kalau begitu pak. Terima kasih banyak ini sudah merepotkan..."

"Iya... jangan sampai lupa. Bilang disuruh saya. Kalau tidak pasti tidak boleh"
"Siap pak. Terima kasih banyak..."

Mereka pun langsung bergegas. Pergi ke ujung lain rumah sakit itu. Ke ruangan yang telah ditanyakan tadi. Mondar - mandir. Mereka tanya kesana ke mari.

Sampai akhirnya tak sia-sia. Beliau mendapatkan ruangan yang layak. Tidak terlalu sumpek. Hanya dua orang dalam ruangan tersebut. Kebetulan juga yang satu baru saja pulang.

Sore hari. Di ruang rawat, suster langsung melihat kondisi pasien. Agar esok dokter lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang diperlukan tentang pasiennya.

---oOo---

Pagi hari. Suasana mulai sibuk. Tim kebersihan menguasai lokasi. Semua diusir. Kecuali pasien dan satu anggota keluarga.

Sebentar lagi dokter masuk. Tidak boleh berantakan. Tidak boleh mengganggu.
Waktu yang ditentukan tiba. Jadwal dokter kontrol. Satu persatu pasien dilihat. Termasuk beliau.

Bapak mendapatkan giliran kedua. Dokter masuk ruangan. Dokter spesialis. Yang sama yang memeriksa bapak di Poliklinik Penyakit Dalam.

"Bagaimana dok?"
"Belum bisa dipastikan. Harus melalui serangkaian cek. Nanti kita ambil sampel yang dibutuhkan", jelas dokter.

Tiga empat hari, bapak mendapatkan perawatan. Hari berikutnya. Sampel dahak diambil. Cairan perut di lab. Di kirim untuk melihat lebih detail. Bapak pun diizinkan pulang.

---oOo---

Pagi cerah. Semalam turun hujan yang cukup lebat. Udara pagi dingin. Tapi lebih segar karena belum terlalu banyak asap kendaraan.

Seperti hari sebelumnya. Jadwal dokter kontrol pagi. Bapak bersiap. Menghadapi pertanyaan dan perkembangan penyakitnya setelah ditangani.

"Bagaimana keadaannya pagi ini Pak?"
"Sudah lebih baik dok..."

"Apa yang dikeluhkan?"
"Ya... perut dok. Masih terasa begah...."

"Oh... iya. itu karena cairan yang menumpuk. Bagaimana dengan makan, sudah enak?"
"Lumayan dok..."

"Bagus... bagus ini pak. Hari ini bapak bisa pulang. Rawat jalan pak... Nanti saya akan menjadwalkan konsul berikutnya."

Wajah beliau tampak tak berubah. Tetap datar. Dengan pandangan yang nanar. Istrinya, yang berdiri disisinya sedikit tersenyum. Terlihat ada sedikit kelegaan dari senyum kecilnya itu.

Setidaknya sudah boleh pulang. Walau belum sembuh total. Mungkin itu yang ada dipikirannya.

Dokter pun beranjak. Ke pasien berikutnya. Sejenak setelah itu, suara seseorang mengucap salam terdengar.

"Loh... kok ke sini... sama siapa?"
"Sama anak-anak. Sama Pakde..."

"Bawa mobil?"
"Iya mas... Bagaimana bapak"
"Ya pas kalau begitu. Bapak boleh pulang. Mungkin tengah hari nanti. Nunggu obat dulu..."

Siang itu, keluarga bapak datang menjenguk. Satu mobil. Mobil rental. Di isi anak-anak, cucu dan kerabat. Sejenak suasana ruangan beliau berubah menjadi ramai.

Semua tampak gembira. Ceria, kecuali beliau. Yang terdiam, menyembunyikan rasa cemas dan kesedihan yang dalam.

Sedang asyik berbincang. Seorang perawat datang ke ruangan.

"Keluarga...! keluarganya mana ini"
"Iya mbak...."

"Dipanggil dokter. Ke ruang perawat segera..."
"Baik mbak...."

Anak sulung beliau bergegas. Berjalan menuju ruang jaga. Di ikuti adiknya. Sesampainya di ruang jaga mereka langsung masuk.

oOo

"Dok..."
"Hem... begini. Bapak hari ini bisa pulang. Tapi disarankan untuk uji lab cairan dalam perutnya. Kalau bisa nanti juga kita sedot cairan diperutnya. Bagaimana?"

"Oh... iya dok. Tidak apa-apa. Yang terbaik menurut dokter..."
"Kalau begitu silahkan disiapkan botol aqua empat. Untuk tempat cairannya"

"Baik dok..."
"Untuk lab... Ini ada biaya yang harus ditanggung mandiri..."
"Berapa dok?"
"Satu juta. Kurang lebih..."
"Ya sudah... kita bersedia dok..."

Selesai diberi arahan mereka langsung kembali ke ruangan. Menyiapkan botol air minum yang sudah kosong.

oOo

Waktu berjalan pelan. Riuh ruangan rawat itu terdengar seperti tangisan dan jeritan yang meronta. Kegembiraan pada senyum tipis yang terlihat hanya semu. Menutupi getir, kesedihan atas keluarga yang ditimpa cobaan.

Sekitar lima belas menit berlalu. Dokter dan beberapa perawat masuk ke ruang bapak. Sejurus kemudian drama dimulai. 

Adegan pengambilan cairan perut begitu mengerikan, setidaknya dimata keluarga bapak. Dengan tenang sang dokter berusaha mengeluarkan cairan perut. Satu dua suntikan. Tak berhasil. 

Beberapa saat berselang, dokter memutuskan untuk hanya mengambil sampel cairan. Tidak bisa mengeluarkan semuanya, seperti yang direncanakan. 

"Cairan tidak berkumpul di satu tempat. Kita ambil sampel saja ya pak. Untuk di lab..." Beberapa suntikan berisi cairan perut segera di bungkus. Perawat kemudian membawa sampel itu ke ruangan. 

"Kita siapkan berkasnya. Setelah ini diantar langsung ya... Karena sampel harus segar..." perintah perawat pada keluarga beliau.

Siang itu, yang terik dan panas, pengobatan rawat inap bapak berakhir dengan uji sampel cairan perut. 

Pengobatan terus berjalan. Bapak dan keluarga terus berjuang. Tak peduli banyak yang mencibir. Tak peduli banyak yang sangsi. Terus, berusaha melawan penyakit itu. 

Beberapa hari berlalu, keluarga terus menunggu hasil lab cairan perut yang diambil. Akhirnya, hasil permeriksaan keluar. 

TUBERKULOSIS, Adenosine Deaminase (ADA) Ascites #, begitulah kurang lebih yang bisa diketahui dari hasil uji lab. 

Yang, menurut kesimpulan dari berbagai diagnosa, bapak positif hepatitis b. Liver, penyakit berat, bahaya. Yang banyak orang anak menyerah langsung ketika mendengarnya. 

---oOo---

Pemeriksaan Hepatitis B Virus (HBV) DNA Kuantitatif Hasil Positif

Pemeriksaan Hepatitis B Virus (HBV) DNA Kuantitatif Hasil Positif, tahap selanjutnya, pemeriksaan hbv-dna. Hari ke 3 rawat inap. Bapak agak lebih baik. Apa yang terjadi padanya sudah lebih jelas. Positif hepatitis B. Diagnosa itu telah menghancurkan separuh kehidupan keluarga beliau.
Pemeriksaan Hepatitis B Virus (HBV) DNA Kuantitatif Hasil Positif
Pemeriksaan Hepatitis B Virus (HBV) DNA Kuantitatif
Meski begitu, keluarga tetap tabah, sabar. Berusaha tanpa menyerah. Selanjutnya, beliau harus menjalani serangkaian tes lab. Mengikuti beberapa lab sebelumnya yang sudah dilakukan. Untuk mendapatkan obat yang tepat.

Pertama cairan dahak. Air kencing juga diuji lab. Masih ada beberapa hari lagi. Bapak masih harus dirawat. Sampai jelas. Semua. 

"Pagi pak... suntik dulu ya."
"Iya sus..."

"Agak sakit ini. Ditahan ya pak..."
"Iya sus"

Sambil meringis. Beliau menahan sakit. Pagi itu hari kedua. Ia menerima injeksi obat sampai 6. Obat berbeda.

Beberapa hari berlalu. Bapak semakin stabil. Kecuali perutnya yang masih tetap bengkak. 
"Mungkin besok sudah boleh pulang pak..."
"Iya dok...

Bapak menjawab dengan lirih. Pulang baginya bukan berita gembira. Maklum. Perutnya masih bengkak. Ia pun masih merasa lemas. 

Hari semakin terik. Suasana rumah sakit begitu riuh. Penuh dengan orang pusing. Antara hidup dan mati. 

"Pak... maaf. Keluarga silahkan ke ruang perawat. Dipanggil dokter."
"Oh... iya sus"

Salah satu anaknya bergegas. Menemui dokter. Langkahnya cepat. Seolah takut. Di depan ruang perawat ia berhenti. Mengetuk pintu sebanyak 3 kali, "tok... tok... tok..." Ia langsung masuk tanpa menunggu jawaban.

"Bagaimana dok...?" Ucapnya sambil melihat ke arah dokter.
"Begini pak... bapak ini positif hepatitis b", jawab sang dokter sambil tetap menulis.

Sang dokter kemudian berhenti sejenak. Ia menatap ke arah putranya
.
"Tidak ada obatnya. Solusinya cangkok hati. Adanya di luar negeri. Jika berhasil, organ hati bapak masih bisa terkena lagi. Dari virus hbv yang sudah ada di darah." Ucapnya serius.

Bagai petir di hari yang cerah. Anak laki-laki itu hanya berdiri mematung. Bingung. Sedih, takut, kecewa. Marah pada kenyataan.

"Bapak perlu di uji lab. Tes HBV-DNA. Untuk memastikan. Jika keluarga setuju... tapi ada biayanya", jelas sang dokter.

"Terus bagaimana dok...?"
"Ya Kalau keluarganya setuju kita ambil sampel darah hari ini. Sebelum pulang."

"Biayanya berapa dok?"
"Kurang lebih satu juta. Sampel nanti harus dikirim ke Jakarta pak. Tidak bisa disini..."

"Oh... kalau begitu kita minta waktu sebentar dok... untuk rembug..."
"Iya... silahkan"

Mereka berlalu. Ke ruangan rawat inap. Berunding. Seluruh keluarga setuju. Karena ada uang, hasil patungan. Setelah ada kesimpulan mereka langsung menemui dokter. Ke ruang jaga perawat.

"Kami setuju dok..."
"Kalau begitu kami akan segera mengambil sampelnya. Supaya bisa cepat dikirim."

"Baik dok... terus biayanya bagaimana dok?"
"Nanti sekalian menunggu kurirnya"

Mereka pun kembali ke ruangan. 

---oOo---

Jelang tengah hari. Keluarga dipanggil. Untuk menebus obat. Salah satu anaknya gesit. Mengurus obat yang akan dibawa pulang. 

Yang lain di ruangan. Siaga, mendampingi bapak.
Tak berapa lama suster datang. Mengambil sampel darah. 

"Ambil sampel ya pak..."
"Iya sus..."

Sampel darah diambil. Keluarga diminta ke ruang jaga. Mengurus administrasi. Siang hari, sekitar jam 1 semua beres. Infus telah dicabut. Bapak dan keluarga bersiap pulang.

"Bapak kontrol lagi kapan mas?"
"Iya... lupa tanya..."
"Ya sudah, tanya dulu. Tanya hasil lab hbv dna juga... kira-kira kapan.

Ke ruang jaga. Anak sulung beliau langsung bertanya mengenai hal itu. Dijelaskan perawat. Dokternya sudah pulang.

Paling cepat 1 minggu. Hasil tes hbv dna baru keluar. Bisa lebih lama. 
"Sudah... tanggal 3 kontrol lagi. Lab palimg cepat seminggu. Nanti dihubungi."

Sekitar jam 2 lebih. Semua urusan sudah selesai. Bapak dan keluarga pulang ke rumah. Setelah lima hari dirawat. Tinggal menunggu hasil lab hbv dna yang entah kapan. "Nanti dihubungi..."

---oOo---

Minggu berselang. Hasil lab belum juga keluar. Sementara menunggu, bapak juga tetap menjalani rawat jalan. Melanjutkan pemeriksaan, semua organ dan kesehatan bapak. 

Melihat kondisi bapak yang tak semakin baik, keluarga terus mengejar. Menghubungi, menanyakan hasil laboratorium.

"Pagi bu... mau tanya hasil lab pasien..."
"Oh... iya. Sebentar di cek dulu ya pak..."
"Masih belum pak...  Mungkin lusa. Nanti kalau sudah keluar kami hubungi bapak..."
"Baik kalau begitu. Terima kasih..."

Agak lama. Bahkan terasa sangat lama sampai pada tanggal 3 Januari 2019 handphone berdering. Pemberitahuan, hasil lab bapak telah keluar. 

"Mau diambil atau dikirim ke rumah sakit saja pak..."
"Dikirim saja bu..."
"Baik kalau begitu.... Hari ini juga akan dikirim."

Hari berikutnya, saat rawat jalan. Keluarga menanyakan hasil lab tersebut. Di ruang rawat inap, tempat bapak dirawat. 

Hasilnya, dokter menjelaskan, positif. Bapak harus tinggal menjalani rangkaian pemeriksaan dan perawatan selanjutnya. Hasil lab HBV DNA akan menjadi rujukan perawatan yang bapak jalani. Begitu setidaknya pemahaman keluarga. 

Minggu, 11 Agustus 2019

Ascites, Perut Buncit Seperti Hamil Sembilan Bulan

Menderita ascites, perut buncit seperti hamil sembilan bulan - panggil saja beliau bapak. Lahir di keluarga religius. Menjalani hidup sederhana dan menghadapi hari tua yang berat. Menderita penyakit hepatitis b kronik. Dengan harapan sembuh yang sangat tipis.

Ascites, Perut Buncit Seperti Hamil Sembilan Bulan

"La ini lho... perut bapak kok malah tambah besar". Bapak duduk di lantai. Menghadap ke arah anaknya. Yang mengamati. Dan mendengarkannya dengan sangat serius.

"Ya sudah bu... di bawa ke rumah sakit saja. Jangan nunggu lama - lama."
"Iya... besok ke rumah sakit daerah saja." 
"Besok disiapkan surat-suratnya. Langsung berangkat."

Suasana sedikit tegang. Masing - masing sorot mata itu menggambarkan rasa takut. Was - was, khawatir. 

Esok harinya. Bapak langsung dibawa ke puskesmas. Bukan untuk berobat tapi untuk minta surat rujukan.

Maklum. Bapak adalah salah satu peserta BPJS. Ia harus membawa rujukan sebelum masuk rumah sakit yang lebih besar.

---oOo--- 

Pagi buta. Langit mendung. Gelap dan dingin. Jam 4, rumah bapak sudah ramai. Semagat, dengan harapan cepat sembuh. Bapak berangkat.

Di antar anaknya. Menggunakan mobil bagus. Mobil rental. Jam 6 pagi sampai. Di rumah sakit daerah.

Keluarga segera mengurus administrasi. Daftar nomor antrian. Menyiapkan berkas - berkas persyaratan pasien.

Menjelang tengah hari, ia bisa bertemu dokter. Dokter penyakit dalam. Yang mengatakan semua organ dalam bapak sehat. 

Bapak pulang sore. Hampir gelap. Membawa sekantong kresek obat.

Dua hari berselang. Obat diminum sesuai petunjuk. Bapak seperti linglung. Sempoyongan kala berdiri. Susah diajak komunikasi. Pengaruh obat, mungkin.

Obat terus diminum. Selang beberapa hari perutnya mulai kempis. Tidak besar. Seperti perut normal. "Alhamdulillah... mudah-mudahan bapak bisa lekas sembuh mas..."

"Iya.... semoga kempis ini karena penyakitnya sembuh. Buka karena yang lain."
Bapak semakin pulih. Makan enak dan perutnya tidak besar lagi.

---oOo---

Satu bulan, kurang lebih. Setelah obat habis. Bapak mulai merasakan tidak enak. Lebih tidak enak dari sebelumnya. Panas dingin. Banyak tidur dan sering lemas.

Suatu sore. Sekitar jam 5 menjelang malam. Handphone berdering nyaring. Nadanya semakin meninggi. Telpon darurat.

"Mas... perut bapak bengkak lagi..."
"Bengkak lagi....?"

"Ya sudah. Kita bawa lagi ke rumah sakit lagi..."
"Kapan?"

"Secepatnya. Kalau perlu besok!"
"Enggak bisa. Besok enggak ada jadwal dokter dalam. Adanya kamis"
"Ya sudah. Kamis."

Bapak dibawa lagi. Untuk ketemu dokter lagi. Hampir sama. Berangkat pagi buta. Diantar keluarga ke rumah sakit yang sama.

"Maaf mbak... hari ini tidak ada dokter penyakit dalam. Dokternya sedang cuti"
"Jadi... bagaimana bu...?"
"Ya tidak bisa berobat...."
"Terus... kapan dokternya masuk lagi?"
"Mungkin minggu depan... tapi belum pasti juga mbak..."

Cobaan pertama. Tidak bisa bertemu dokter. Padahal perut bapak sudah cukup besar. Darurat. Keluarga pun panik. Bingung. Takut.

"Masak harus pulang tangan kosong?"
"Ke rumah sakit lain saja... biar dapat obat"

"Tapi dokternya beda mas? Rujukannya juga tidak bisa dipakai dong?"
"Ya... bagaimana lagi. Apa pulang lalu kesini lagi besok?"
"Kasihan bapak juga sih. Tanya bapak saja"
"Ke rumah sakit lain saja ya pak? Dari pada pulang enggak bawa obat?"
"Ya sudah. Tidak apa-apa..."

Bapak di bawa ke rumah sakit lain. Sekitar setengah kilo dari rumah sakit pertama. Lebih kecil tapi setidaknya bisa pulang membawa obat.

Sampai di rumah sakit. Antri sebentar. Tinggal menunggu dokter. "Alhamdulillah... dokternya ada..."
Selang beberapa jam satu persatu mendapat panggilan.

Di ruang praktik, bertemu dokter. Bapak ditanya mengenai keluhannya.
"Bagaimana dok...?"
"Bagaimana apanya?"

"Kok apanya, ya sakit bapak. Kira-kira bapak sakit apa?"
"Ya kalau ingin tahu harus dicek satu per satu?"
"Ya, kira-kira. Atau mungkin kemungkinannya apa gitu dok?"

"Tidak bisa. Kalau ingin tahu ya harus dicek semua. Tidak bisa kira-kira. Bagaimana apa mau dicek langsung?"

"Cek itu apa saja dok?"
"Semua, USG, Rontgen, cek darah dan lainnya..."
"Waduh..."

"Ya begitu. Terus bagaimana ini. Apa mau dijadwalkan untuk dicek?"
"Begini saja dulu dok. Kita minta obat dulu. Supaya kita siapkan dulu. Besok kita bisa ke sini lagi untuk selanjutnya.... Bisa kan dok?"

"Ya sudah kalau begitu. Saya buatkan resep saja ya. Saya kasih resep untuk keluhan di perutnya saja", ucap dokter itu. "Iya dok...", jawab anak bapak yang mendampingi.

Lega, setidaknya sedikit. Bapak pulang membawa obat yang diberikan dokter.

Sore hari. Perjalanan pulang tampak sedikit sunyi. Semua lebih banyak diam. Terlarut dengan kemungkinan - kemungkinan yang tak pernah bisa dibayangkan.

---oOo---

Sampai di rumah. Tak ada sinar cerah di tatapan itu. Bapak tampak begitu letih. Ada kesedihan dan rasa takut yang dalam di sorot mata itu.

"Sabar Pak... sekarang minum obat ini dulu. Besok kita usahakan periksa lagi kalau dokternya sudah ada.

Dengan sabar, tanpa ada pilihan, bapak meminum obat itu. Beberapa keluhan bisa berkurang. Tapi perut tetap sama. Buncit seperti orang hamil 9 bulan.

Hari demi hari, tidak ada tanda lebih baik. Keluarga memutuskan untuk membawanya lagi ke rumah sakit pertama. Yang resepnya membuat perut kempis dan normal kembali. Yang dokternya waktu itu sedang cuti.

Sore hari. Keluarga sibuk. Telfon saja sini. Mereka tidak mau kecolongan lagi.
"Telfon dulu saja. Ada atau tidak. Jangan sampai seperti kemarin..."
"Iya... mas aja yang nelpon. Ini nomornya..."
"Ya sudah..."

Berkas, semua disiapkan. Jadwal dokter di cek kembali. Bapak pun diantar lagi ke rsud. Alhamdulillah. Dokter penyakit dalamnya ada.

Singkat cerita, setelah antri, bapak bertemu dokter. Ditemani anaknya. "Hari ini bapak USG ya..." Dokter langsung meminta keluarga untuk mengurus.
"Nanti kalau hasilnya sudah keluar langsung di bawa ke sini lagi. Kita lihat hasilnya..."

Menjelang sore hasil USG keluar. Tidak ada masalah di perut. Tak ada kesimpulan sakitnya apa. Akhirnya bapak pulang dengan obat yang harus dihabiskan.

Satu minggu. Obat habis tapi perut tidak kempis. Hanya berkurang sedikit. Bapak menebus obat lagi di puskes. Obat yang sama seperti yang diresepkan dokter. 

---oOo---

Waktu terus bergulir. Bukannya sembuh, bapak merasakan semakin banyak keluhan. Meski begitu, ia masih kuat berdiri. Kuat berjalan.

Lemas. Itu yang paling sering ia keluhkan. Selera makan pun berkurang. Karena perut yang bengkak. Entah kenapa.

Pengobatan berlanjut. Bapak kembali berkunjung ke dokter. Di rumah sakit yang sama.

Tidak ada pemeriksaan lebih lanjut. Dokter langsung menyarankan bapak untuk dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.

Ascites. Melalui rujukan yang diberikan itulah keluarga tahu apa yang dialami bapak. Ya, ascites. Itu diagnosa dokter untuk gejala penumpukan cairan di tubuh.

Ascites ini adalah akibat. Dari sakit utama yang diderita. Penyebabnya, tidak bisa ditebak. Harus uji lab untuk mengetahui apa yang menyebabkan terjadinya ascites.

Dengan kondisi perut buncit seperti orang hamil sembilan bulan - menderita ascites - bapak pun dirujuk untuk penanganan lebih lanjut. Di rumah sakit umum propinsi. Yang lebih besar.

---oOo---

Mag Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Gejala Ascites Hepatitis B

Alami Gejala Mag Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Gejala Ascites Karena Hepatitis B - gejala mag. Yang tak kunjung hilang. Mual, muntah. Perut tidak enak. Tidak hilang, tak kunjung sembuh. Meski sudah minum obat dan cek dokter.

Mag Tak Kunjung Sembuh, Ternyata Gejala Ascites Hepatitis B

Siapa sangka itu bencana, ascites akibat hepatitis b pun muncul. Sudah sejak lama. Namun tak dirasa. Atau mingkin lebih tepatnya, tidak tahu. Tahu ada yang salah. Tapi tidak tahu apa. Dianggap remeh. Hingga duka.

Pagi itu. Seperti biasa. Menjelang subuh bapak sudah bangun. Mandi, lalu menunaikan ibadah subuh. 

Hampir pasti. Pagi, kalau mendengar suara orang mau muntah, itu pasti bapak. Entah ada apa dilambungnya. Kalau ditanya, jawabnya pasti mag. Telat makan.

Aku sering kesal. Kadang jengkel. Bukan karena jijik mendengar itu. Tapi karena punya firasat tak baik.

"Pak... sarapan dulu. Yang banyak, biar mag-nya sembuh..." ucapku. Aku memang sering cerewet. Takut kalau sampai bapak sakit parah. 

Diam. Bapak lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya. Kalau ada apa-apa biasanya bapak manja. Tapi untuk urusan ini lain. 

---oOo---

Pukul 4 pagi. Ibu mulai beraktivitas. Menyiapkan sarapan dan bekal. Untuk bekal di sawah. Maklum, ini masa panen padi. Semua sibuk, tak terkecuali kami. 

Seperti kebanyakan orang di lingkungan kami, kami juga akan ikut panen padi. Buruh upah pada yang punya sawah. 

"Nak... bangun. Ikut bantu bapak ke sawah. Mumpung libur sekolah....", teriak ibu dari dapur. 
"Iya...", jawabku singkat. Aku masih ngantuk. Maklum, masih subuh. Apalagi banyak embun. 

Tapi aku akhirnya bangun. Brisik, tak tahan dengar suara ibu yang mengoceh.

Sekitar 5 hari. Acara panen raya selesai. Kami kembali ke aktivitas biasanya. 
Bapak kerja. Buruh petik sawit sementara aku sekolah. 

---oOo---

Minggu, hari libur. Bapak di rumah. Santai sambil melihat acara tinju kesayangan. 
"Pak.... mbok ke ladang. Sawit kita dilihat...."

"Dilihat gimana... wong kemarin saja baru dilihat..."
"Yo dilihat. Rumputnya dicabuk atau gimana.."

Mungkin ingin santai atau memang letih. Bapak diam saja. Tak beranjak dari depan tv. Sehari-hari kalau libur bapak ya seperti itu. Santai.

Tapi entahlah. Kalau dilihat bapak memang tidak se-getol orang lain kalau bekerja. Sebentar-sebentar berhenti. Lebih banyak waktu yang terbuang.

Entah. Bapak seperti gampah lelah. Sehari pasti hanya satu pekerjaan. Gak pernah lebih.

Ada beberapa keanehan pada bapak. Jauh sebelum itu. Selain gejala mag, bapak juga gampak capek. Sampai ibu juga capek ngomel-ngomel ke bapak.

---oOo---

Bapak semakain tua. Uban semakin banyak. Satu persatu anaknya menikah. Bapak sudah punya 6 cucu sekarang. Rumah mulai sesak, ramai kalau sedang berkumpul. Apalagi hari minggu, pasti riuh.

"Bapak kok kelihatan kurus badannya...?"
"Iya... semenjak bapak kerja jauh kemarin itu loh. Katanya disana pernah sakit..."

"Bapak ki perutnya ini agak enggak enak..."
"Ya periksa ke dokter pak... biar sembuh!"

"Ke dokter ya sudah. Tapi kadang bapak yo angel. Di suruh ke dokter ya besak-besok terus..."
"La wong kemarin yo kesana enggak sembuh...."

"Ke dokter lain pak. Kan banyak."
"Iya kui. Sana dianter ke dokter biar diperiksa yang benar"
"Minggu ya tutup. Besok senin aja."

Meski tidak setiap hari tapi suasana akhir pekan menjadi momen bahagia. Kami bisa berkumpul meski hanya untuk sekedar ngobrol.

"Sudah sore, kami pulang dulu. Besok main lagi..." kami berpamitan. Sore hari rumah mulai sepi. Anak-anak pulang ke rumah masing-masing. 

Seminggu kemudian aku ditelfon. "Bapak dari kemarin sakitnya enggak sembuh-sembuh mas. Coba diajak ke dokter lain." Ucap adikku diujung telepon.

Aku langsung bergegas. Ke rumah. 
"La gimana pak?"

"Rasanya penuh. Makan sedikit kok enggak enak perutnya"
"La ini... coba lihat perut bapakmu. Kok sepertinya besar gini?"

"Astaghfirulloh...", bisikku dalam hati, "ya... kayak besar. Rasanya pedih atau sakit enggak pak?", lanjutku.

"Enggak. Enggak pedih, enggak sakit..."
"Ya sudah. Besok ke dokter spesialis."

Langsung. Esok harinya bapak aku ajak ke dokter spesialis. Aku khawatir kalau itu gejala sakit parah. 

"Bagaimana dok?"
"Iya... ini dikasih resep. Nanti ditebus di apotek depan"
"Baik dok..."

"Besok kalau obatnya habis belum enak datang lagi ke sini. Kita cek lagi..."
"Iya dok. Terima kasih"

Agak lega. Tapi tak disangka keluhan bapak tidak hilang. Buncit pada perut bapak justru tambah kentara. Jelas.

Sore itu, seminggu sudah. Aku baru saja mengantar bapak berobat lagi. Kebetulan obat di klinik yang kami datangi kosong. Kami diberi resep untuk beli obat di apotek lain. 

Kami juga diberi berkas hasil pemeriksaan USG. Penasaran, aku membuka dan mencermati setiap tulisan disana.

"Ascites. Ini apa ya", tanyaku dalam hati. Karena tidak paham dengan istilah medis, aku kemudian googling. 

"Ascites adalah kondisi kelebihan cairan pada tubuh yang bisa disebabkan karena beberapa faktor...", kurang lebih begitu.

Aku semakin penasaran. Bercampur takut karena di artikel itu penyebabnya merujuk pada penyakit yang tergolong berat. Dari situlah, akhirnya aku mendapati kemungkinan buruk. Terburuk.

Bapak kena ascites, yang mungkin disebabkan karena gagal ginjal, atau gagal hati karena hepatitis b. Belum pasti. Tapi indikasi dan kesan medis mengarah ke sana. 

---oOo---